Manajemen Produksi dan Operasi Agribisnis Peternakan
Manajemen adalah tindakan atau kegiatan merencanakan,
mengorganisir, melaksanakan, mengkoordinasikan dan mengontrol untuk mencapai
tujuan organisasi. Produksi adalah kegiatan untuk mengubah input menjadi output
sehingga lebih berdaya guna dari pada bentuk aslinya. Jadi manajemen produksi
merupakan penerapan ilmu manajemen untuk mengatur kegiatan produksi atau
operasi agar dapat dilakukan secara efisien. Mekasisme atau system manajemen
produksi masing-masing perusahaan berbeda, namun yang pasti ada proses mengubah
bentuk fisik, atau memindahkan (transportasi), menyimpan, memeriksa dan
meminjamkan.
Manajemen produksi produksi dan operasi operasi
merupakan usaha-usaha pengelolaan secara optimal optimal penggunaan sumberdaya
sumberdaya (atau sering disebut disebut faktor-faktor produksi produksi),
tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan mentah dan sebagainya
sebagainya-dalam proses transformasi transformasi bahan mentah dan tenaga kerja
menjadi menjadi berbagai berbagai produk atau jasa. Para manajer manajer
produksi produksi dan operasi operasi mengarahkan berbagai berbagai masukan
(input) agar (input) agar dapat memproduksi memproduksi berbagai berbagai
keluaran (output) (output) dalam jumlah, kualitas kualitas, harga, waktu dan
tempat tertentu sesuai dengan permintaan konsumen.
Manajemen produksi produksi dan operasi operasi
Agribisnis (MPOA) sebagai sebagai suatu proses secara berkesinambungan dan
efektif efektif menggunakan fungsi manajemen untuk mengintegrasikan berbagai
berbagai sumberdaya sumberdaya secara efisien dalam rangka mencapai mencapai
tujuan pembangunan agribisnis. Unsur pokoknya yaitu:
·
Kontinyu
Manajemen produksi
produksi dan operasi operasi Agribisnis bukan suatu kegiatan yang berdiri
berdiri sendiri sendiri, keputusan manajemen bukan untuk tindakan sesaat,
melainkan tindakan yang berkelanjutan atau suatu proses yang kontinyu.
·
Efektif
Segala pekerjaan
harus dilakukan secara tepat dan sebaik-baiknya, serta mencapai mencapai hasil
sesuai dengan yang diharapkan.
Ada tiga aspek
yang saling berkaitan dalam ruang lingkup manajemen operasi, yaitu :
1.
Aspek structural
Yaitu aspek yang
memperlihatkan konfigurasi komponen yang membangun sistem manajemen operasi dan
interaksinya satu sama lain. Komponen bahan merupakan elemen input yang akan di
transformasikan sesuai dengan bentuk dan kualitas produk yang di inginkan.
2.
Aspek fungsional
Yaitu aspek yang
berkaitan dengan manajemen dan organisasi komponen struktural maupun
interaksinya mulai dari perencanaan, penerapan, pengendalian maupun perbaikan
agar diperoleh kinerja optimum. Persoalan utama yang dihadapi dari aspek
fungsional adalah bagaimana mengelola komponen struktural beserta interaksinya,
agar dapat di pertahankan kontinuitasnya.
3.
Aspek lingkungan
Yaitu memberikan
dimensi lain pada sistem manajemen operasi yang berupa pentingnya memperhatikan
perkembangan dan kecenderungan yang terjadi di luar sistem.
Terdapat empat
jenis produksi:
1)
Penguraian
Menciptakan
banyak jenis produk dari satu jenis bahan
2)
Peramuan
Menciptakan satu
jenis produk dari banyak jenis bahan
3)
Usaha ekstraktif
Memindahkan
produk dari lingkungan alamnya
4)
Pengolahan
Mengubah bentuk
bahan agar lebih mudah dipasarkan
Terdapat empat hal yang perlu diperhatikan dalam memilih salah satu
produk peternakan:
1)
Prospek pasar produk peternakan
Melihat
bagaimana prospek hewan yang ada di pasar
2)
Modal kerja dan investasi
Dengan modal
yang kita punya kita memilih hewan apa yang bisa kita ternak
3)
Kontinyuitas produk
Bagaimana hewan
ternak dapat diternak secara berkelanjutan
4)
Resiko usaha
Melihat resiko apa
saja yang terdapat,dari dalam maupun dari luar
Di dalam sistem operasional dikenal ada 4 strategi proses yaitu :
1.
Proses produksi yang terputus-putus (intermitten
process)
Merupakan kegiatan operasional yang mempergunakan
peralatan produksi yang disusun/diatur sedemikian rupa yang dimanfaatkan secara
fleksibel (multipurpose) untuk menghasilkan berbagai produk atau jasa. Contoh :
di bidang pelayanan yaitu : Restoran Chinesse Foods menyiapakan makanan sesuai
pesanan pelanggan yang dikerjakan oleh juru masak. Umumnya proses intermitten
merupakan sistem operasional yang tidak terstandarisir, hanya berdasarkan
keinginan pelanggan pada saat dilakukan pemesanan.
2.
Proses produksi yang kontinu (continous process)
Merupakan proses produksi yang mempergunakan peralatan
produksi yang disusun dan diatur dengan memperhatikan urutan kegiatan dalam
menghasilkan produk atau jasa, serta arus bahan di dalam proses telah
terstandarisasi. Contoh : minuman Teh Botol merupakan produk yang
terstandarisasi.
3.
Proses produksi yang berulang-ulang (repetitive
process)
Merupakan proses produksi yang menggabungkan fungsi
intermitten process dan continous process. Tetapi proses ini mempergunakan
bagian dan bahan komponen yang berbagai jenis diantara proses yang kontinu.
Contoh : dalam usaha jasa, restoran besar melayani banyak pelanggan dengan
beragam menu.
4.
Produksi massa (mass customization)
Merupakan proses produksi yang menggabungkan fungsi
intermitten process, continous process serta repetitive process yang
menggunakan berbagai komponen bahan, teknik skedul produksi dan mengutamakan
kecepatan pelayanan.
Dalam memilih tempat untuk fasilitas, pada umumnya
manajer agribisnis harus mempertimbangkan 4 hal yaitu :
1.
Sumber bahan baku
Lokasi agribisnis mungkin akan berdekatan dengan
sumber bahan bakunya jika pada dasarnya hanya dibutuhkan satu jenis bahan baku
dan ongkos angkutnya dalam bentuk bahan baku sangat besar. Misalnya : ongkos
angkut untuk ternak atau buah dan sayuran lebih mahal daripada ongkos angkut
untuk hasil olahan dari bahan tersebut. Agribisnis memerlukan sedemikian banyak
jenis bahan baku dari lokasi yang terpencar dan berjauhan sehingga lebih tepat
menempatkan lokasi produksi di dekat pasar.
2.
Ketersediaan tenaga kerja
Wilayah yang berbeda menawarkan jenis tenaga kerja
yang berbeda pula. Disamping itu wilayah tertentu memerlukan upah dan tunjangan
yang lebih tinggi bagi pekerjanya karena biaya hidup yang lebih tinggi di
daerah tersebut. Ada juga daerah yang menjanjikan tingkat produktivitas yang
lebih tinggi serta ketidakhadiran dan pergantian pekerja yang lebih rendah.
3.
Lokasi pasar
Jika perusahaan membutuhkan banyak jenis bahan bakar
dengan ongkos angkut yang tidak begitu besar, maka penempatan di dekat pasar
bisa sangat menguntungkan. Penempatan yang berdekatan dengan pasar terutama
penting bagi pengecer sehingga pelanggan tidak perlu pergi jauh-jauh untuk
membeli.
4.
Insentif khusus
Industri pertanian membutuhkan air dan pembangkit
tenaga yang besar sebaiknya ditempatkan di daerah yang berlimpah dengan sumber
perbekalan tersebut. Untuk menggairahkan bisnis adakalanya pemerintah
menawarkan keringanan pajak dan biaya listrik atau air disamping kemudahan
dalam perijinan dan penyediaan prasarana yang lebih baik.
REFERENSI
Downey dan Ericson, 1992. Manajemen Agribisnis (Terjemahan). Erlangga.
Jakarta
Manahan P. Tampubolon. 2004. Manajemen Operasional. Ghalia Indonesia.
Jakarta
Sofjan Assauri. 2008. Manajemen Produksi dan Operasi. Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. Jakarta
Komentar
Posting Komentar