AGRIBISNIS PETERNAKAN
Sektor agribisnis merupakan sektor
yang cukup potensial dan telah membuktikan dirinya sebagai salah satu sektor
yang mampu bertahan serta tumbuh selama krisis yang melanda Indonesia. Dalam
agribisnis terdapat tiga subsistem,
yaitu (1) Subsistem agribisnis hulu , yaitu kegiatan dalam penyedian
sarana produksi pertanian seperti; industri pupuk, obat-obatan, benih atau
bibit, alat dan mesin pertanian, dan lain sebagainya. (2) Subsistem on-farm yaitu kegiatan usahatani. (3) Subsistem agribisnis hilir yaitu, kegiatan mengolah hasil pertanian atau langsung dipasarkan.
Ketiga subsistem ini memiliki pendukung seperti,
perkereditan, asuransi, transportasi, pergudangan, penyuluhan, kebijakan
pemerintah, dan lain-lain.
Agribisnis peternakan mencakup semua kegiatan yang dimulai dengan pengadaan dan penyaluran sarana produksi, produksi usahatani / ternak dan pemasaran produk usaha tani / ternak atau hasil olahannya. Kegiatan ini mempunyai hubungan yang erat sehingga gangguan pada salah satu kegiatan akan berpengaruh terhadap kelancaran seluruh kegiatan dalam bisnis.
Sarana produksi peternakan antara
lain, benih bibit makanan ternak, pupuk, obat pemberantas hama dan penyakit, dan
kredit. Kemudian berdasarkan jenis
outputnya, subsistem usahatani / ternak dapat digolongkan menjadi usaha ternak
perah, usaha ternak potong/pedaging, usaha ayam petelur, dan lain-lain. Lalu
pada pemasaran sebagian dari produk yang dihasilkan usahatani didistribusikan
langsung ke konsumen, dan sebagian mengalami pengolahan lebih dulu lalu
didistribusikan ke konsumen.
Di dalam sistem agribisnis peternakan, subsistem agribisnis hulu dan
hilir lebih banyak memperoleh nilai tambah dibandingkan dengan subsistem usahatani
/ ternak. Bandingkan pendapatan peternak sapi perah dengan pabrik pengolahan
susu atau peternak sapi potong dengan pabrik sosis atau perusahaan pengalengan
daging. Pendapatan petani dari usahatani hanya 30 % sementara pada subsistem hulu
dan hilir mencapai 70 %. Namun subsistem usahatani / ternak merupakan subsistem
utama karena produk-produk peternakan yang dikonsumsi oleh konsumen dihasilkan pada
subsistem ini dan tanpa subsistem ini tidak mungkin ada subsistem agribisnis
hulu dan hilir.

Komentar
Posting Komentar